Showing posts with label Cerita Lucu. Show all posts
Showing posts with label Cerita Lucu. Show all posts

Sunday, October 25, 2009

Menantu Baru


Enaknya jadi menantu baru. Semuanya jadi serba baru. Anggota keluarga baru, suasana rumah baru, perabot baru. Dan satu lagi yang tergolong rezeki nomplok, pelajaran, perhatian dan kasih sayang dari orang tua baru.

Itulah yang dirasakan Sri. Seminggu sudah masa lajangnya berlalu. Kenikmatan yang Sri terima dari Allah kian membesar. Sudah dapat suami saleh, dapat mertua penyayang. Wah, benar-benar berkah.

Selama seminggu itu, Sri seperti jadi ratu. Semuanya serba dilayani. Mulai dari cuci pakaian, masak, beres-beres rumah, hingga urusan kebersihan kamar Sri sendiri. Semuanya diurus ibu mertua.

Sebenarnya, pembantu di rumah mertua Sri cuma satu. Usianya pun sudah setengah baya. Tapi, karena tekanan dari ibu mertua, si pembantu jadi serba luar biasa. Kerjanya cekatan, tekun, teliti, dan serba bisa. Sebentar-sebentar terdengar teriakan ibu mertua, “Yem, mejanye bedebu, nih. Ubinnye udah dipel belom. Makanan buat Sri udah disiapin belom?”

Betawi. Yah, itulah jodoh Sri. Gadis asli Solo ini dianugerahi Allah jodoh pemuda asli Betawi. Tulen. Walau arsitektur rumah berserta perabotnya sudah moderen, suasana kampung Betawi masih sangat terasa. Semua anggota keluarga berinteraksi satu sama lain layaknya lenong Betawi. Dialognya, egaliternya, perilakunya, kepolosannya, hingga sebutan benda-benda di sekitar rumah. Suatu hal yang super baru buat Sri.

Pasalnya, Sri memang sama sekali belum bergaul dengan dunia Betawi. Dari bayi hingga sudah punya cita-cita ingin punya bayi, dunianya murni Solo. Lembut, santun, ramah, dan serba halus. Suatu hal yang hampir bertolak belakang dengan Betawi. Kadang, Sri senyum-senyum sendiri. “Subhanallah. Mungkin Allah mau mengajarkan saya soal persaudaraan Islam,” ucap Sri dalam hati.

Waktu di Solo, ada teman Sri yang cerita soal orang Betawi. “Aduh, Sri. Kamu harus sabar, lho! Orang Betawi itu kasar!” ucap sang teman ketika tahu calon suami Sri. Dan, itu memang terlihat pada sekilas sosok sang calon. Padahal, calon suami Sri kuliah di Solo. Bertahun-tahun tinggal di Solo, pembawaan tetap asli Betawi. Itu terlihat ketika awal proses pernikahan. Sri sempat kaget dengan ucapan sang calon. “Gimana, Sri mau nerima saya nggak jadi suami?” suara calon suami Sri enteng. Kontan saja, Sri jadi deg-degan. Mau jawab apa.

Ketika proses lamaran calon mertua pun, Sri sempat dibikin kaget. Waktu itu, calon mertua Sri berkunjung ke rumah Sri di Solo. Selain melamar, mereka mau kenalan dengan Sri. Ini dipandang perlu, karena mereka kenal Sri cuma lewat foto. Itu pun cuma sebagian badan dan kepala. Terang saja, calon mertua Sri jadi sangat penasaran.

Ketika berkunjung, ternyata bukan cuma orang tua calon suami Sri saja yang ingin melihat. Hampir seluruh anggota keluarga dekat calon mau ikut melihat. Dan sepertinya, mereka sangat kompak penasaran. “Yang mane, sih calonnye. Yang mane?” ucapan itu menggaung-gaung di telinga Sri. Hampir semua yang datang berucap itu. Ketika bapak memperkenalkan Sri ke para tamu, serempak suara-suara kembali menggaung. “Oh itu! Cakep, ye. Item manis!”

Kini, Sri mulai paham tentang Betawi. Dan Sri jadi sangat yakin kalau ucapan sang teman salah. Betawi memang terlihat seperti kasar. Tapi, itulah bentuk kejujuran, dan kesupelan mereka dalam berinteraksi. Dalam kamus Betawi, tidak ada istilah sungkan. Kalau benar, ya dibilang benar. Dan kalau salah, mereka menyatakan apa adanya. Kepada siapa pun. Walaupun terhadap orang tua sendiri. Semuanya serba to the point.

Di masa-masa penyesuaian itu, Sri belajar banyak pada suami. Mulai dari budaya, perilaku, dan juga bahasa. Sang suami mengajarkan Sri soal istilah sehari-hari. “Sri, kalau lu itu artinya kamu. Dan kalau aye artinya saya. Jangan salah, ya, Sri,” ucap suami suatu kali.

Pernah suatu kali, Sri sedang masak kue. Lagi asyik-asyiknya masak, tiba-tiba ibu mertua Sri muncul dari balik pintu dapur. “Eh, mantu lagi masak. Bikin ape, tu?” kata ibu mertua sambil menghampiri Sri.

Yang ditanya belum juga menjawab. Justru bingung. Sri bingung mesti jawab apa. Pasalnya, ia sedang masak kue bolu. Ia ingat betul dengan ucapan sang suami tentang istilah Betawi. Lu itu artinya kamu. Kalau ia sebut nama kue itu apa adanya, Sri yakin ibu mertuanya pasti tersinggung. Jadi, mesti bilang apa?

Sri jadi gugup. Keringat dingin mulai membasahi jilbabnya. Aduh, bilang apa, ya. “Tu, lu bikin kue ape?” tanya mertua sekali lagi. “Anu, Nyak. Hmmm….” Sri makin gugup. “Kue..kue…kue bol aye, Nyak!” ucap Sri hampir tak terdengar. Ibu mertua Sri tampak terbelalak. “Kue ape?” tanyanya lagi.

Pernah juga Sri dibikin shock sama ayah mertuanya. Persoalannya sebenarnya sederhana. Yaitu, soal buang angin atau kentut. Buat Sri, kentut itu sudah merupakan barang sangat tabu. Jangankan bersuara, tanpa suara saja sudah sangat memalukan. Terlebih saat berada di tengah orang banyak. Tapi, hukum itu tidak berlaku buat babe, ayah mertua Sri.

Suatu kali, ketika keluarga dekat suami ingin kenal lebih dekat dengan Sri, babe ikut bergabung. Silih berganti pembicaraan meletup-letup dari mulut yang satu ke yang lain. Dan suara tawa pun meledak. Posisi duduk para tamu pun tidak beraturan. Ada yang di bangku, di lantai, angkat kaki, dan lain-lain. Cuma babe yang bersila di atas bangku. Kadang, ucapan-ucapan humornya membuat suasana jadi akrab. Sebagai menantu yang baik, Sri duduk bersebelahan dengan babe. Sesekali, Sri menimpali kelucuan-kelucuan babe dengan senyum manis.

Tiba-tiba, di luar dugaan Sri, suara nyaring meletus dari arah bawah babe, “Tuuuut!” Spontan, wajah Sri memerah. Ia seperti menahan marah. Tapi, di luar dugaannya pula, tak satu pun para tamu yang bereaksi. Mereka seperti tidak mendengar apa-apa. Padahal, suara itu teramat nyaring. Dan obrolan pun terus bergulir lancar. Cuma Sri yang gelisah. “Aduh, kok tega babe begitu sama mantunya sendiri,” suara Sri dalam hati. Hampir saja, ia pergi ke kamar untuk menangis.

Sri kadang dibuat malu sama mertua. Pasalnya, ketika sanak keluarga suami berkunjung, selalu saja Sri dibangga-banggakan. “Nih, mantu kesayangan gue. Sekolenye tinggi. Orang pinter tuh, die!” ucap babe tanpa beban. Saat itu, wajah Sri berwarna-warni bagaikan pelangi. Malu.

Pernikahan memang mengajarkan banyak hal buat Sri. Salah satunya adalah kemampuan penyesuaian. Kalau ke keluarga saja tidak mampu adaptasi, gimana dengan orang lain. Dan untuk yang satu ini, Sri benar-benar dibuat kerja keras. Bagaimana pun juga, mereka adalah orang tua suami. Dan itu berarti orang tua Sri juga. Tanpa kurang sedikit pun.

Jadi menantu baru memang membuahkan hal baru. Selain keberkahan baru, tentu saja, tantangan baru. Dan ini berarti perjuangan baru.

Sayur Asem

Lidah memang punya keunikan sendiri. Di satu sisi, alat tubuh inilah yang kerap digunakan untuk berbohong. Tapi di sisi lain, justru ia tak pernah bohong dalam satu hal: rasa. Orang pun mengatakan, rasa memang nggak pernah bohong!

Kehidupan berumah tangga persis seperti sekolah alam. Di situlah orang belajar banyak tentang berbagai hal. Mulai menejmen, administrasi, keuangan, komunikasi, juga soal kepribadian.

Dari madrasah keluargalah orang menjadi makin pintar dan pengalaman. Pintar karena berkembangnya kemampuan memilih dan memilah mana yang baik dan buruk. Dan pengalaman ketika kepiawaian kian tumbuh saat menyikapi tingkah polah lingkungan.

Dari pintar dan pengalaman itu, orang pun menjadi semakin bijak. Mungkin, masyarakat biasa menyebutnya C3: cool, calm, confident. Dalam soal apa pun, termasuk ketika mesti berbohong demi sebuah kebaikan. Hal itulah yang kerap dirasakan Pak Agus.

Sebenarnya, berbohong bukan tipe Pak Agus. Ayah dua anak ini yakin kalau seumur-umur, baru soal ini ia tega berkata tidak sejujurnya. Dan itu pun ia lakukan setelah dapat jawaban dari seorang ustadz, kalau berbohong demi menutup aib isteri itu boleh. Aib isteri?

Kayaknya, nggak pas kalau disebut aib. Pak Agus yakin, itu bukan aib. Tapi lebih kepada skill, atau keterampilan. Pasalnya, hingga punya anak dua ini, isteri Pak Agus belum mahir masak. Lalu, apa yang salah kalau isteri nggak jago masak? Bukankah banyak ibu-ibu pejabat yang nggak bisa masak?

Persoalannya bukan di situ. Bukan soal sekadar isteri nggak bisa masak. Bukan juga karena tidak ada biaya buat gaji khadimah ngebantuin masak. Insya Allah, Pak Agus paham kalau itu bukan masalah. Tapi, ada percaya diri isteri Pak Agus yang teramat hebat. Dan percaya diri itulah yang membuat dilema Pak Agus.

Setelah punya rumah sendiri, Pak Agus dan isteri mencoba menata kehidupan keluarga yang seimbang, serasi, dan mandiri. Termasuk dalam soal masak memasak. Kalau sebelumnya, masakan seratus persen ditangani orang tua, kini isteri Pak Agus belajar masak sendiri. Sebuah langkah yang sangat dikagumi para suami.

Bayangkan jika dapur keluarga ada di warung padang, restoran, kafe, rumah makan siap saji. Wah, biaya keluarga bisa melonjak dua hingga tiga kali lipat. Dampak itu mungkin masih belum seberapa. Ada yang jauh lebih berharga dari sekadar pengeluaran. Kalau yang masak isteri, ada hubungan batin antara suami, isteri, dan anak-anak. Ketika makan, suami ingat isteri, anak-anak ingat ibu: betapa mahal jerih payah isteri atau ibu, hingga menghasilkan masakan yang begini lezat, sehat, dan bergizi. Subhanallah. Itulah perekat cinta yang paling mahal, langgeng, dan kokoh.

Sampai di situ, Pak Agus sangat bahagia. Ia begitu bersyukur punya isteri yang punya penilaian teliti soal masak sendiri. Tapi, soal percaya diri isteri itu yang bikin repot sang suami. Walau masakannya masih jauh dari enak, apalagi lezat, isteri Pak Agus selalu yakin seyakin-yakinnya kalau masakannya pasti digemari orang. Setidaknya, Pak Agus bisa jadi sampel.

Tiap kali makan bersama, isteri Pak Agus menatap lekat reaksi wajah sang suami. Senyumnya menghias wajahnya yang polos. Dan hatinya pun berbunga-bunga menerka pujian apa yang akan disampaikan suami. Tapi kadang, ia lebih tidak sabar menanti reaksi lama itu. Isteri Pak Agus pun kerap berujar, “Enak kan! Enak kan, Mas!”

Kalau sudah begitu, Pak Agus tak bisa berbuat banyak kecuali senyum. Dan ketidaksabaran isteri menanti reaksi pun ia balas dengan baik, “Hmm, nikmatnya. Belum pernah aku rasakan sayur asem seperti ini. Hmm, nikmat!” Pak Agus pun mencoba makan dengan lahap.

Tapi setelah itu, ada satu hal yang selalu terjadi tiap kali sayur asem tersantap habis. Pak Agus langsung ke belakang. Perutnya mulas. Dan ia pun diajari perutnya tentang ikhlas. Lepas, tanpa ganjalan.

Masakan primadona sayur asem itulah yang akhirnya jadi obat mujarab buat Pak Agus. Tiap kali ia mengalami sembelit, ia minta dibuatkan sayur asem. Cuma, sembelit itu ia rahasiakan buat dirinya sendiri. Beberapa saat setelah menyantap sayur yang sebenarnya teramat asem itu, sembelitnya pun langsung sembuh. Bahkan, sangat sembuh.

Hampir tiap bulan, isteri Pak Agus selalu mencoba resep baru. Beberapa majalah ia kumpulkan, ia teliti, dan akhirnya ia coba. Ada resep ayam panggang ala Solo, gado-gado Betawi, olahan ikan khas Makasar, dan masih banyak resep daerah lain. Biasanya, untuk memastikan kalau masakannya selalu sukses, Pak Aguslah yang diberikan kehormatan sebagai pencicip pertama.

Reaksi Pak Agus pun selalu sama, “Subhanallah, mantap. Jarang yang bisa masak begini!” Dan, isteri Pak Agus pun tersenyum puas. Menariknya, isteri Pak Agus tak akan mencoba sedikit pun hasil masakannya sebelum Pak Agus mencoba. Dan seperti biasa, sebelum ada komentar dari suami, isteri Pak Agus selalu bilang, “Enak kan! Enak kan, Mas. Ya, kan!”

Sayangnya, anak-anak belum pernah mencoba masakan ibu mereka. Pak Agus selalu melarang. Alasannya sederhana, mereka masih balita. Pencernaannya belum cocok buat masakan luar biasa buatan ibunya. Dan isteri Pak Agus pun setuju. “Benar, Mas. Anak-anak cukup telor ceplok sama ayam goreng aja!” ujar sang isteri menyetujui.

Ada keinginan isteri Pak Agus yang sulit terbendung. Ia ingin masakan primadonanya, sayur asem, bisa dicicipi para tetangga. Dan sayur asem pun sudah tersaji dalam kemasan cantik yang sudah ia siapkan. Saat itu juga, Pak Agus mengatakan, “Biar Mas yang bawakan. Ibu istirahat saja. Supaya keikhlasan ibu tetap terjaga.” Isteri Pak Agus pun mengangguk setuju.

Sore itu, isteri Pak Agus sedang duduk di beranda depan ketika beberapa tetangga menyapa ramah. “Bu, terima kasih ya. Masakannya enak, lo. Soto babat ibu benar-benar mantap! Kemasannya juga bagus,” ujar mereka hampir bersamaan.

Tinggal isteri Pak Agus yang tetap terdiam seribu bahasa. Perhatiannya bukan lagi ke para tetangga. Ia cuma memikirkan satu hal: soto babat? Bukan sayur asem?